Toba Caldera Resort, Sibisa, 22386

Jl. Kapt. Pattimura No.125 Medan 20153 Sumatera Utara

info@bpodt.id

Toba : (0625) 41500 Medan: (061)450-2908

Siaran Pers: Lokakarya Ujicoba Alat Ukur dan Profil Di DPSP Danau Toba Harapkan Wujudkan Pariwisata Tangguh

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin

Siaran Pers:
Badan Pelaksana Otorita Danau Toba

Lokakarya Ujicoba Alat Ukur dan Profil Di DPSP Danau Toba Harapkan Wujudkan Pariwisata Tangguh

Toba, 15 Agustus 2023 – Dalam rangka penyusunan pedoman Pariwisata Tangguh, Kemenparekraf dalam hal ini Direktorat Tata Kelola Destinasi mengadakan Lokakarya ujicoba alat ukur dan Ukur dan Profil Pariwisata Tangguh Di DPSP Danau Toba. Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi referensi/acuan dalam penyusunan program penanggulangan bencana yang berdampak pada kelangsungan ekosistem pariwisata, dibutuhkan alat ukur untuk dapat dijadikan sebagai indikator ketahanan suatu destinasi, (Labersa 15/08/2023).

Selain itu ini juga merupakan hal ini merupakan tindak lanjut Observasi Lapangan dan Wawancara kepada Pengelola Destinasi Wisata di DPSP Danau Toba dan sekitarnya dari tanggal 13-16 Agustus 2023. Direktorat Tata Kelola Destinasi akan melaksanakan Lokakarya Ujicoba Alat Ukur dan Profil Pariwisata Tangguh, untuk menguji coba instrumen ketangguhan destinasi pariwisata melalui indikator dan kriteria yang telah disusun.

Acara dibuka secara daring oleh Deputi Destinasi dan Infrastruktur Kemenparekraf, Hariyanto. Deputi Hariyanto mengatakan bahwa kegiatan ini merupakan yang pertama setelah beliau dilantik menjadi Deputi Destinasi dan Infrastruktur.

Deputi Heriyanto menjelaskan dalam dua dekade terakhir ini memang terjadi beberapa rangkaian bencana yang mengganggu kestabilan nasional dan ini merupakan refleksi untuk tanggap terhadap bencana nasional. Sebagai Upaya untuk menyiap siagakan krisis saat ini, Kemenparekraf berhasil Menyusun SISPARNAS.

Terdapat empat pilar dalam pariwisata Tangguh adalah Tata Kelola dan Kebijakan destinasi PAriwisata, Kesiapan mitigasi, kesiapan tanggap darurat dan kesiapan pemulihan dan normalisasi. Disusun yang melibatkan pihak internal di kemenparekraf dan juga eksternal.

“Untuk indeks bahaya bencana Danau Toba khususnya di Samosir dan Tapanuli Utara, Banjir, cuaca ekstrim, kekeringan, bencana longsor dan gempa tektonik. Saya harap kegiatan ini dapat  memberikan tingkat keamanan bagi orang untuk dapat berwisata di Danau Toba,” ujar Deputi Hariyanto.

Sementara itu Zumri Sulthony, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sumatera Utara dalam sambutannya mengapresiasi Kemenparekraf untuk melakukan Lokakarya Uji coba Alat Ukur Dan Profil Pariwisata Tangguh Di DPSP Danau Toba.

Lokakarya ini menjadi barometer untuk melihat kawasan ini dampak-dampak yang menghambat pertumbuhan pariwisata di Danau Toba. Danau Toba merupakan bekas gunung vulkanik dimana ada beberapa titik yang bencana terkhususnya di tempat destinasi wisata Kawasan Danau Toba. Sehingga beliau mengharapkan kerjasama seluruh jajaran dan element di Danau Toba khususnya para stake holder menjadi kekuatan besar agar terjamin kekuatan dan ketangguhannya.

“Saat ini Kemenparekraf berhasil menyusun SISPARNAS, untuk itu saat ini kami dari Disbudpar Provsu sedang melakukan pengumpulan data-data untuk SISPARNAS. Saya minta dukungan kepada seluruh SISPARNAS. Saya berharap acara ini bisa berjalan dengan baik dan semua dapat belajar dan diskusi agar tercipta kawasan danau toba yang Tangguh. Mari bersama-sama membangun pariwisata yang baik,” ujar Kadis Zumri.

Mewakili Jimmy Bernando Panjaitan Direktur Utama BPODT, Fritz Rudolf Nababan Direktur Destinasi Pariwisata BPODT mempresentasikan beberapa hal terkait potensi-potensi bencana yang ada di wilayah DPSP Danau Toba.

Direktur Fritz menjelaskan ada beberapa kejadian bencana yang melanda di Danau Toba, sehingga mengakibatkan adanya korban jiwa. Ada beberapa bencana yang pernah terjadi di Danau Toba, yaitu: angin Puting Beliung, Banjir Bandang, Tanah Longsor dan Gempa Tektonik.

Pengembangan pariwisata Tangguh bencana harus dapat disinergikan dengan konteks manajemen bencana yakni tahap pra-bencana, saat terjadi bencana dan tahap pasca bencana yang dilaksanakan melalui skema penyelarasan kebijakan pariwisata dan manajemen bencana serta kolaborasi antar pemangku kepentingan New Regulation yang mengatur secara spesifik pariwisata Tangguh bencana.

Peristiwa resiko CHSE dan Kebencanaan Kawasan DPSP Danau Toba salah satunya beberapa hari ini terjadi angin puting beliung di tengah Danau Toba, Hujan deras menyebabkan robohnya tembok pembatas sehingga menyebabkan korban jiwa dan juga bencana lainnya.

Direktur Fritz menambahkan ada beberapa strategi krisis pariwisata, yaitu: Memahami risiko, Perencanaan dan Prioritas, Mitigasi dan Kesiapsiagaan, Tanggapan dan Pemulihan serta Tindakan Ketahanan Jangka Panjang.

Adapun analisis dampak dan peran stakeholder dimana krisis kepariwisataan dapat berdampak pada ekonomi dan Masyarakat secara luas. Terjadinya penurunan jumlah wisatawan dapat menyebabkan menurunnya pendapatan sektor pariwisata yang apda akhirnya berdampak pada sektor terkait.

“Ada beberapa program BPODT untuk resiko CHSE dan kebencanaan di Zona Otoritatif, salah satunya penanaman 300 pohon produkti bersama (Biro Klasifikasi Indonesia, Sucofindo dan Surveyor Indonesia) dan Membuat pagar batas jurang Kaldera,” ujar Direktur Fritz.

Nelson Lumbantoruan

Kepala Divisi Komunikasi Publik BPODT

 640 total views

Komblik BPODT
Komblik BPODT

Leave a Replay